Semua Berujung SBY?


Tidak mungkin Boediono berjalan sendiri tanpa ada kekuatan lain yang menekannya. Siapa aktor intelektual itu?

MediaUmat– Beberapa ekonom mendesak agar Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani segera dinonaktifkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Alasannya cukup masuk akal. Kedua orang inilah yang paling bertanggung jawab atas dana bailout sebesar lebih dari Rp 6,7 trilyun kepada Bank Century.


Namun hingga kini tak ada tindakan apapun terhadap keduanya. Seolah Presiden SBY merestui tindakan itu. Ini bisa dilihat dari pidato presiden 23 November lalu. SBY mengatakan kasus Bank Century harus dilihat dalam konteks waktu saat itu.

Setali tiga uang dengan Boediono dan Sri Mulyani, SBY mengatakan saat itu sedang terjadi krisis global. Situasinya dianggap tidak normal dan pemerintah harus menyelamatkan dunia perbankan. “Kebijakan yang ditempuh untuk melakukan tindakan terhadap Bank Century yang di antaranya adalah tindakan hukum terhadap para pengelola Bank Century serta penyaluran dana penyertaan modal sementara, sesungguhnya bertujuan untuk mencegah terjadinya krisis perbankan bahkan perekonomian,” kata SBY.

Argumentasi ini sangat mudah dipatahkan. Kalau krisis, nyatanya yang bermasalah cuma Century. Pengamat ekonomi Kwik Kian Gie mensinyalir bailout Bank Century ditujukan untuk menyelamatkan proses cuci uang (money laundering) dana politik dari luar negeri. Selain itu, suntikan dana itu untuk meno-long para deposan besar yang menjadi penyumbang dana kampanye Pemilu 2009.

Dalam diskusi “Membong-kar Skandal Bank Century” yang digelar di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (19/11), Kwik mengatakan tidak masuk akal sebenarnya jika deposan besar menyimpan uangnya di bank tersebut. “Logikanya, kenapa deposan besar mau menanam uang di bank kecil dengan reputasi buruk seperti itu? Mungkinkan lalu lintas uang untuk tujuan politik tertentu? Jadi hanya jadi ajang mencuci uang di luar negeri,” katanya.

Menurutnya, mengusut dana dalam jumlah besar yang diduga digunakan untuk kepentingan politik, memang akan sulit jika disalurkan melalui bank. Sulitnya pelacakan aliran dana yang telah disalurkan ke bank itulah yang menjadi cikal-bakal sejarah digunakannya bank sebagai tempat pencucian uang (money laundring).

Ia menjelaskan, mudah saja bila hendak melakukan keja-hatan perbankan demi kepentingan politik: carilah bank yang tidak bonafid dengan track record pemilik yang diragukan. Selain itu, ada model lain yang lebih sederhana, yakni modus pasang badan karena ada jaminan dari penguasa. “Si penguasa tinggal bilang: lakukan saja, saya akan lindungi,” ungkapnya.

Entah kebetulan atau tidak, Bank Century memiliki karakteristik yang serupa dengan bank di modus operandi ini. “Sejak awal, Century adalah gabungan (merger) dari tiga bank bereputasi buruk pada tahun 2004,” jelas mantan Ketua Bappenas ini.

Ketiga bank tersebut, Danpac, CIC dan Pikko, sangat terkenal keburukannya di kalangan masyarakat dan dunia bisnis sebagai bank yang memfasilitasi spekulan valas. “Anehnya, dengan reputasi buruk semacam ini, BI memberikan izin kepada mereka untuk melakukan merger dengan alasan agar lebih sehat,” ujar Kwik.

Bank Century hasil merger ketiga bank bereputasi buruk itu pun, lanjutnya, langsung disetujui Bank Indonesia (BI) tanpa fit and proper test. Anehnya, kenapa ada deposan besar yang mau saja menyimpan uang di bank sekecil Century yang bereputasi buruk.

Kekuatan Besar

Sudah menjadi rahasia umum, orang yang paling berperan dalam bailout Bank Century ini adalah Boediono (wakil presiden sekarang). “Saya tidak bisa bayangkan bahwa Pak Boediono tidak tahu masalah ini,” kata Kwik.

Ia tidak sepakat dengan argumentasi bahwa pengawasan oleh BI lemah. Pasalnya, Guber-nur BI, didukung staf yang diisi orang-orang yang sangat pandai, administrasinya luar biasa rapi, dengan sistem komputer. “Kalau dibilang pengawasanya lemah itu lucu. Pengawasan tidak mungkin lemah karena semua data sudah tercatat dengan riil,” paparnya.

Kwik menduga, ada kekuatan besar yang menekan Boediono untuk memberikan perse-tujuan pencairan dana bailout. Hanya saja ia enggan membeberkan identias orang itu. “Kalau saya menduga ada. Saya tidak mau katakan nama. Tidak pas,” ujarnya.

Dugaan itu bukannya tidak berdasar. Ia mengungkap, Boediono itu tipikal orang yang sudah terbiasa melakukan tindakan atas desakan yang besar. Lantas, ia pun mencontohkan soal pernyataan Boediono ketika ditanya media tentang alasannya menerima pencalonan sebagai wakil presiden. “Waktu itu dia menjawab dengan harfiah saya menerima pencalonan sebagai wapres karena ada sebuah kekuatan arus besar yang tidak bisa saya tolak,” kata Kwik mengutip pernyataan Boediono.

Ia mengemukakan, Boediono memang sudah terbiasa berada di bawah kendali. Kwik enggan menyebut siapa orang yang disebut-sebut memiliki kekuatan tersebut. “Dia terbiasa diperintah orang. Saya tidak menyebutkan orang. Hanya mau bilang bahwa ada dugaan. Bahwa ada yang tidak masuk akal di sini,” tuturnya.

Bisa jadi dugaan Kwik benar. Rekaman hasil penyadapan telepon Anggodo Widjojo yang diputar di Mahkamah Konstitusi mengungkap ada rencana untuk membubarkan KPK. Seperti diketahui, saat itu KPK sedang membongkar kasus Century ini. Dan Bibit-Chandra adalah dua wakil ketua yang gigih mengungkap skandal ini. Keduanya dicari-cari kesalahannya dengan yang hampir tidak ada.

Dalam rekaman telepon itu bahkan nama RI 1 diucapkan dengan sangat jelas. Betulkah SBY menjadi aktor intelektualnya? Lagi-lagi publik harus menunggu hasil penelusuran PPATK dan keberanian polisi mengusut kasus ini.

Kalau keterlibatan SBY terbukti, ini akan menjadi skandal berikutnya setelah Buloggate yang menjatuhkan Abdurrahman Wahid dari kursi RI 1. Kita tunggu![] mu02


http: mediaumat.com

2 Komentar

  1. harus diusut tuntas. harus!

  2. menyedihkan sekali…untuk orang yang tadinya saya kagumi….:(


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s